Bolehkah Mencium Istri ketika Berpuasa

Ketika berpuasa kita tetap menjalankan aktifitas sehari-hari. Berangkat kerja pagi, pulang sore hari. Saat berangkat kerja kerap kali suami ataupun isti memberi kecupan kasih sayang saat berpamitan. Di bulan Ramadhan yang mulia ini, apakah hal tersebut tetap diperbolehkan atau tidak?

Mencium istri ketika bulan Ramadhan sebagai bentuk kasih sayang diperbolehkan oleh syariat, asalkan ciuman tersebut tidak disertai dengan syahwat. Yang tidak diperbolehkan adalah ciuman yang disertai dengan syahwat apalagi sampai menimbulkan keluarnya air mani. Hal ini berdasarkan hadist yang diriwayatkan oleh Aisyah RA bahwa Nabi SAW menciumnya ketika beliau SAW berpuasa.

عن عائشة رضي الله عنها قالت كان النبي صلى الله عليه وسلم يقبل ويباشر وهو صائم وكان أملككم لإربه

Dari Aisyah RA, beliau berkata, “Nabi SAW biasa mencium dan mencumbu istrinya sedangkan beliau SAW dalam keadaan berpuasa. Namun beliau SAW adalah orang yang paling kuat menahan syahwatnya.” (HR. Bukhari Muslim)

Suatu ketika pernah seorang Sahabat bertanya kepada Rasullah SAW tentang masalah ini. Lantas Beliau SAW menganjurkannya untuk bertanya kepada Ummu Salamah. Ketika ditanya, istri beliau tersebut memberitahu padanya bahwa Nabi SAW melakukan hal tersebut, yang menandakan bahwa mencium istri ketika berpuasa itu diperbolehkan dengan syarat yang telah dijelaskan sebelumnya.

عن عمرو بن أبي سلمة رضي الله عنهما، أنه سأل رسول الله صلى الله عليه وسلم: أيقبل الصائم؟ فقال له: سل هذه لأم سلمة ، فأخبرته أن رسول الله صلى الله عليه وسلم يفعل ذلك، فقال: يا رسول الله: قد غفر الله لك ما تقدم من ذنبك وما تأخر، فقال له: أما والله إني لأتقاكم لله وأخشاكم له

Dari Amru bin Salamah, dia bertanya kepada Rasulullah SAW, “Apakah orang yang sedang berpuasa boleh mencium istrinya?” Maka Rasulullah SAW bersabda, “Tanyalah kepada Ummu Salamah”. Lalu Ummu Salamah memberitahu padanya bahwa Nabi SAW melakukannya (mencium istri saat berpuasa).” Amru bin Salamah lantas berkata: ‘Wahai Rasulullah engkau adalah orang yang telah diampuni dosa-dosanya baik yang telah lalu maupun yang akan datang (sehingga engkau boleh melakukannya). Rasulullah SAW pun menjawab: “Sungguh Aku adalah orang yang paling bertakwa dan paling takut kepada Allah diantara kalian (Jika hal tersebut dilarang maka akulah orang pertama yang akan menjauhinya)” (HR. Muslim)

Yang dimaksud dengan mencumbu dalam hadist Aisyah diatas adalah hal-hal seperti memeluk, merangkul, menyentuh dan hal-hal yang biasa dilakukan sebelum berjimak. Selama tidak disertai dengan syahwat, maka hal tersebut diperbolehkan ketika berpuasa. Hal ini menunjukkan pada juta bahwa Islam dalam ajarannya selalu memperhatikan tabiat dasar yang ada dalam diri manusia. Bahwa berpuasa memang harus menahan diri dari segala hawa nafsu. Namun hal dalam hal kasih sayang terhadap istri, hal tersebut tidak lantas ditinggalkan begitu saja ketika beribadah kepada Allah.

Aِkan tetapi yang perlu menjadi catatan adalah apabila tidak mampu untuk menahan syahwatnya ketika melakukan hal-hal tersebut, maka lebih baik untuk ditinggalkan.

Wallahu a’lam bisshowab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s