Tuduhan terhadap Kitab Sohih Bukhari, Muslim dan bantahannya

sohih bukhori muslimDalam tulisan sebelumnya telah dijelaskan beberapa tuduhan-tuduhan yang dialamatkan kepada Imam Bukhari dan Imam Muslim. Pada kesempatan kali ini akan dipaparkan beberapa tuduhan lain yang ada dalam Buku Bait al-Ankabut dan telah dibantah oleh Dr. Muhammad Imarah.

Tuduhan lain yang dipaparkan oleh penulis buku bait al-Ankabut adalah dengan mengatakan bahwa kaum muslimin ahlu sunnah (sunni) mengkultuskan kitab sohih Bukhori sama seperti mereka mengkultuskan al-Qur’an. Dalam satu sub judul yang ada dalam buku bait al-Ankabut tertulis dengan judul “Imam bukhori, Imam yang Maksum, dan kitabnya adalah kitab yang suci”. Ia mengatakan bahwa orang-orang sunni melakukan hal tersebut sebagai bentuk penolakan terhadap para Imam Ahlul Bait yang diyakini oleh orang-orang syiah kemaksumannya, yang Allah singkirkan dari mereka segala bentuk kejelekan dan mensucikan mereka. Lalu mereka (ahlu sunnah) mengangkat Imam buatan mereka dan menisbahkan kemaksuman kepada mereka.

Apakah benar tuduhan yang disangkakan oleh penulis bait al-Ankabut ini? Jika melihat fakta yang ada, apa yang ia katakan itu hanya bualan belaka. Karena tidak ada satupun ulama dari ahlu sunnah (sunni) yang mengatakan demikian, yang menganggap Imam Bukhori sebagai imam yang maksum. Dalam keyakinan orang-orang sunni, tidak ada satu makhluk pun yang maksum di dunia ini kecuali mereka para nabi dan rasul utusan Allah. Tidak ada seorangpun yang maksum setelah wafatnya Rasulullah SAW. Bahkan para sahabat, mulai dari Khulafaur Rasyidin sampai sahabat-sahabat Rasulullah yang lainnya, tidak ada satupun yang maksum diantara mereka menurut tradisi orang-orang sunni. Mereka hanya menisbahkan ‘adalah kepada para sahabat, yang artinya disini bukan sebuah kemaksuman, tapi sebuah sifat yang ada pada diri mereka yang membuat mereka tidak mungkin untuk berbohong dan menyampaikan sesuatu yang tidak dikatakan dan dilakukan oleh Nabi SAW.

Adapun anggapan bahwa orang-orang sunni menganggap Kitab Sohih Bukhori sebagai kitab suci yang lain juga tidaklah benar, karena sebagaimana yang kita maklumi bersama bahwa tidak ada satupun ulama ahlu sunnah yang mengatakan bahwa Kitab Sohih Bukhori adalah kitab suci seperti al-Quran yang jika dibaca mendapatkan pahala sama seperti ketika membaca al-Quran.

Malah sebenanya merekalah (orang-orang syiah) yang menganggap para imam mereka maksum, bahkan mengangkatnya melebihi derajat para Nabi dan Rasul Allah. Bukan hanya itu mereka juga mengkultuskan kitab hadist mereka al-Kaafi yang ditulis oleh al-Kailanii. Menempatkannya lebih daripada al-Quran, yang didalamnya terdapat beberapa perkataan imam mereka yang mengatakan bahwa al-Quran telah mengalami perubahan. Hadist tentang ketidak orsinilan al-Quran ini bahkan mencapai derajat mutawatir ma’nawi dalam kitab ini.

Jadi siapa sebenarnya yang mengkultuskan para imam dan menjadikan kitab-kitab riwayat melebihi al-Quran? Ahlu sunnah kah, ataukah mereka (syiah), dalam hal ini syiah imamiyah Tanya Dr. Muhammad Imarah setelah memaparkan hal tersebut.

Jika penulis buku ini membaca apa yang ditulis oleh Ayatullah as-Syahid Murtadha Muthahhari dalam kitab Naqd al-Fikri ad-diini ‘Inda as-Syahid Murtadha Muthahhari maka ia akan tahu siapa sebenarnya yang mengkultuskan kitab-kitab riwayat melebihi al-Quran.

Dalam buku tersebut Ayatullah Murtadha Muthahhari mengkritisi orang-orang Syiah yang lahir dari rahim Madrasah Akhbariyah (orang-orang yang membukukan riwayat-riwayat hadist yang ada dalam syiah) yang menafikan al-Quran sebagai sumber rujukan hukum dengan alasan bahwa yang bisa memahami al-Quran hanya para Imam Syiah saja, sedangkan yang lain tidak mampu memahaminya, sehingga cukup mengikuti pemahaman para imam yang ada dalam kitab-kitab hadist milik mereka. Selain itu mereka juga menafikan peran akal dengan alasan bahwa akal tidak boleh ikut campur dalam urusan agama. Mereka juga menafikan peran ijma’ karena menurut mereka ijma’ adalah cara yang digunakan oleh ahlu sunnah dalam memilih Abu Bakar RA. Yang karena itu semua mereka menjadikan riwayat hadist sebagai rujukan utama dalam semua permasalahan yang ada dalam agama baik itu Aqidah, ushul dan juga furu’. Sehingga dapat dikatakan bahwa mereka menjadikan kitab hadist mereka melebihi peran al-Qur’an, akal dan juga ijma’ dalam masalah agama.

Lalu penulis buku ini juga mengatakan bahwa Kitab Sohih Bukhori dan Muslim bukanlah sumber rujukan bagi 4 madzhab fikih yang ada dalam ahlu sunnah. Karena para imam fikih yang ada telah merumuskan madzhab fikih mereka sebelum kedua kitab ini ada. Sehingga bisa dikatakan bahwa kedua kitab ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan permasalahan fikih yang ada.

Dalam hal ini Dr. Muhammad Imarah menjelaskan bahwa penulis buku bait al-Ankabut sepertinya kurang bisa memahami arti dari madzhab fikih. Karena madzhab fikih itu tidak stagnan dan berhenti begitu saja ketika para imam madzhab itu meninggal, namun selalu mengalami perkembangan. Memang pada awalnya, para pendiri madzhab fikih ini dalam meletakkan pondasi madzhab mereka berdasarkan hadist-hadist yang terdapat pada kitab-kitab sunnah yang ada sebelum imam bukhori dan muslim. Namun pada perkembangan selanjutnya, dalil-dalil yang digunakan oleh para imam tersebut terkumpul dalam kitab-kitab hadist yang dibukukan setelah mereka wafat, termasuk terkumpul didalam kitab Sohih Bukhori dan Muslim, dua kitab hadist yang paling sohih diantara kitab-kitab hadist yang lainnya. Kemudian pada abad-abad berikutnya kitab-kitab sunnah inilah yang menjadi sumber rujukan dan membuat berkembangnya madzhab fikih tersebut dalam berijtihad mengambil hukum-hukum fikih.

Dr. Muhammad Imarah lalu mengatakan bahwa sebenarnya masalah yang diangkat oleh penulis buku bait al-Ankabut ini bukanlah permasalahan tentang hubungan antara Fikih dengan kedua kitab ini, namun lebih pada kebencian syiah terhadap kitab-kitab hadist yang dimiliki oleh ahlu sunnah, khususnya dua kitab hadist ini yang paling sohih periwayatannya sampai kepada Rasulullah SAW.

Terakhir Dr. Muhammad Imarah mengingatkan orang-orang syiah yang berlebihan dengan sebuah perkataan Ali bin Abi Thalib yang ada dalam Kitab Nahjul Balaghah yang disusun oleh mereka sendiri. “Ada dua golongan yang binasa karenaku, pertama; orang-orang yang berlebihan dalam mencintaiku yang membawannya pada kebatilan. Kedua; orang-orang yang membenciku secara berlebihan yang membawanya pada kebatilan. Adapun sebaik-baik orang dalam bersikap kepadaku adalah mereka yang moderat dan tidak berlebihan, maka ikutilah mereka dan ikuti golongan mayoritas, karena pertolongan Allah ada bersama jamaah. Jauhilah perpecahan, karena orang-orang yang memisahkan diri dari jamaah akan menjadi mangsa para syetan (yang ada di sekitar kita), sebagaimana kambing yang terpisah dari kawanannya akan menjadi mangsa bagi srigala. Ingatlah barang siapa yang mengajak pada syiar ini (memisahkan diri dari jamaah), maka perangilah mereka, walaupun mereka mengaku sebagai pengikutku.”

Lalu ia (Dr. Muhammad Imarah) mengajak para cendekiawan Syiah untuk sejenak menyelami perkataan Ali bin Abi Thalib ini dan menanyakan pada diri mereka, siapakah orang-orang yang moderat yang tidak berlebihan pada Imam Ali RA yang menjadikannya sebagai Imam bersama para Sahabat Rasulullah yang lainnya? Siapakah yang menjadikan kecintaan mereka kepada Ali RA untuk membenci, mengkafirkan, menyesatkan dan memfasikkan para sahabat Rasulullah yang lainnya. Siapakah yang menjadi golongan mayoritas yang dianjurkan oleh Imam Ali RA untuk mengikutinya, dan siapakah golongan yang memisahkan diri dari jamaah yang dikatakan oleh imam Ali sebagai mangsa-mangsa para syetan yang ada?

Akhirnya di akhir kitab Dr. Muhammad Imarah mengharapkan agar orang-orang Syiah dapat kembali ke pangkuan umat dengan pemahaman yang benar, daripada tetap menjadi orang-orang yang berlebihan dan memisahkan diri dari jamaah yang membuat mereka terlempar dari sejarah umat ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s