Menjawab Tuduhan Keberpihakan Imam Bukhori dan Muslim pada Daulah Bani Umayyah

Kitab Sohih Bukhori dan Muslim merupakan dua kitab hadist yang sudah mendapatkan pengakuan dari seluruh kaum muslimin dari sejak munculnya hingga saat ini. Dua kitab ini merupakan sumber rujukan yang tervalid setelah al-Quran dalam agama Islam.
Namun meskipun sudah diakui oleh hampir seluruh umat muslim di seluruh dunia, tetap saja ada beberapa golongan yang mencoba untuk menelanjangi otoritas kedua kitab yang dianggap paling sohih nisbahnya kepada Rasulullah SAW setelah al-Quran. Salah satunya adalah seorang cendekiawan syiah Mesir yang merupakan juru bicara resmi Syiah Imamiyah Istna Asyariyah yang membuat buku dengan judul “Bait al-Ankabut”

Berikut ini adalah Beberapa tuduhan-tuduhan bohong yang dialamatkan kepada Imam Bukhori dan Muslim dalam buku “Bait al-Ankabut” yang ditulis oleh Dr. Ahmad Rasim Nafiis, yang dibantah oleh Dr. Muhammad Imarah dalam bukunya “Iftiraat Syiiyyah ‘Alaa al-Bukhori wa Muslim”.

Dalam bukunya, penulis buku “Bait al-Ankabut” mengatakan bahwa kitab sohih bukhori dan Muslim serta kitab-kitab hadist lainnya yang dipakai sebagai rujukan oleh orang-orang sunni merupakan kitab yang mewakili pemikiran bani umayyah dalam agama Islam dan tidak mewakili pemikiran islam yang sebenarnya. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa Imam Bukhori dan Muslim telah berpihak kepada bani Umayyah dan menjalankan langkah-langkah Bani Umayyah untuk menafikan dan menghabisi otoritas para imam yang diyakini oleh orang-orang syiah. Hal ini dapat dibuktikan dengan tidak adanya satupun riwayat tentang peristiwa karbala’ dalam kedua kitab ini dan kitab-kitab hadist lainnya yang digunakan oleh orang-orang sunni. Selain itu tidak satupun riwayat yang berasal dari Hasan dan Husein.

Dalam membantah tuduhan ini, Dr. Muhammad Imarah mengajak kita untuk melihat tahun kelahiran Imam Bukhori dan juga Imam Muslim. Imam Bukhori dilahirkan tahun 194 H, wafat tahun 256 H. Imam Muslim dilahirkan tahun 206 H, wafat tahun 261 H. Adapun Daulah Bani Umayyah berkuasa dari Tahun 41 H – 132 H. Dari sini dapat kita lihat bahwa Imam Bukhori dan juga Imam Muslim tidak hidup di zaman Bani Umayyah, namun hidup 60 tahun lebih setelah berakhirnya kekuasaan Bani Umayyah, tepatnya pada masa daulah Abbasiyah. Itu artinya tuduhan bahwa Imam Bukhori dan Muslim berpihak kepada Daulah Bani Umayyah dan menjalankan langkah-langkah Bani Umayyah untuk menafikan dan menghabisi otoritas Para Imam Syiah tidaklah benar, karena beliau tidak hidup di zaman Daulah Bani Umayyah, namun hidup di zaman Daulah Abbasiyah yang notabenenya tidak sependapat juga dengan kebijakan-kebijakan yang pernah diambil pada masa Daulah Bani Umayyah.

Selain itu Imam Bukhori sendiri pun bukan tipe ulama yang dekat dengan penguasa, sehingga dengan mudah mengikuti apa yang diinginkan oleh penguasa. Hal ini Nampak dari sikap beliau ketika menolak permintaan Pemimpin kota Bukhara untuk datang ke istananya dan membacakan hadist kepadanya. Saat itu Imam Bukhori mengatakan pada utusan yang diutus oleh Pimpinan Bukhara padanya: “Katakan padanya, saya tidak tidak akan merendahkan sebuah ilmu dan tidak akan membawanya ke pintu-pintu para sultan. Apabila ia juga ingin belajar tentang ilmu ini, maka hendaknya ia yang datang ke masjidku ini atau ke rumahku. Jika hal ini tidak membuatmu senang, maka kamu adalah seorang raja, laranglah aku untuk mengadakan majlis ilmu ini, agar aku bisa memberikan alasan kepada Allah pada hari kiamat nanti bahwa aku tidak menyembunyikan ilmu”. Karena sikap imam bukhori itu, akhirnya beliau diasingkan oleh Amir Bukhara Kholid bin Muhammad adz-Dzuhli dari Bukhara.

Lalu tentang peristiwa Karbala’ yang tidak diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim, Dr. Muhammad Imarah mengatakan, penulis buku “Bait al-Ankabut” ini lupa atau pura-pura lupa bahwa peristiwa Karbala’ itu merupakan sebuah kejadian sejarah yang tidak terjadi di zaman Nabi sehingga bisa dikatakan sebagai Sunnah yang dimuat dalam kitab-kitab hadist yang ada. Karena yang dimaksud dengan Sunnah menurut ulama hadist yang dimuat dalam kitab-kitab hadist adalah segala sesuatu yang berasal dari Nabi Muhammad baik itu yang berupa perkataan, perbuatan, taqrir (ketetapan), sifat tubuh, dan juga akhlaq Beliau SAW. Jadi peristiwa Karbala’ itu tempatnya bukan di kitab-kitab hadist seperti Sohih Bukhori dan Muslim, tapi di Kitab-kitab sejarah.

Lantas tentang tuduhan keberpihakan Imam Bukhori dan Muslim pada Daulah Bani Umayyah dan kebencian mereka pada Imam Hasan dan Husein sehingga mereka tidak meriwayatkan satu hadist pun dari Hasan dan Husein, padahal mereka meriwayatkan dari para sahabat yang juga seumuran dengan Hasan dan Husein. Dalam hal ini Dr. Muhammad Imarah menerangkan bahwa Hasan bin Ali RA ketika Rasulullah wafat berumur 7 tahun, sedangkan Husein bin Ali RA ketika Rasulullah SAW wafat berumur 6 tahun. Sehingga tidak punya kemungkinan untuk menghafal dan meriwayatkan hadist dari Rasulullah SAW. Adapun para sahabat yang dikatakan seumuran oleh penulis “Bait-al-Ankabut” yang hadistnya diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim, umurnya beberapa tahun lebih tua dari Hasan dan Husein, sehingga memungkinkan mereka untuk menghafal dan meriwayatkan hadist dari Rasulullah SAW. Seperti Abdullah bin Zubair yang lahir pada tahun 1 H, wafat tahun 73 H, Abdullah bin Umar lahir pada tahun 10 SH – 73 H, Abdullah bin Abbas lahir tahun 3 SH – 68 H.

Lebih lanjut Dr. Muhammad Imarah mempertanyakan mengapa penulis buku “Bait al-Ankabut” ini tidak menjelaskan posisi Abdullah bin Zubair yang hadistnya diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim, padahal ia adalah musuh bebuyutan Daulah Bani Umayyah yang memberontak dan akhirnya membentuk pemerintahan diluar pemerintahan Daulah Bani Umayyah dan membentuk kekhilafahan baru. Hal yang juga menafikan keberpihakan Imam Bukhori dan Muslim terhadap Bani Umayyah. Jika mereka berdua berpihak kepada Bani Umayyah, maka mereka tidak akan meriwayatkan hadist dari Abdullah bin Zubair RA ini.

Jadi kesimpulannya, Imam Bukhori dan Muslim tidaklah berpihak kepada Daulah Bani Umayyah dan tidak membenci Hasan dan Husein. Jika penulis buku “Bait al-Ankabut” mau menelusuri lebih lanjut, maka ia akan menemukan banyak hadist yang diriwayatkan oleh kedua imam ini yang bercerita tentang keutamaan Hasan dan Husein serta Ali RA. Bahkan hadist-hadist tentang keutamaan Ali RA bisa dikatakan memiliki porsi yang paling besar jika dibandingkan dengan hadist-hadist yang berbicara tentang keutamaan sahabat yang lain Abu Bakar, Umar, Ustman RA dll.

Berdasarkan fakta-fakta yang tersebut diatas, tuduhan-tuduhan yang dialamatkan kepada kedua Imam Hadist ini tidaklah benar, karena tidak sesuai dengan fakta yang ada. Tuduhan-tuduhan tersebut sengaja dibuat untuk memberikan stigma negatif pada kedua kitab ini dan juga kitab-kitab hadist yang lainnya. Tujuannya adalah untuk memasukkan keraguan pada umat islam (sunni) agar menjauh dari kitab-kitab ini, yang notabenenya menghimpun sekian banyak hadist yang menjadi landasan kaum muslimin dalam menjalankan agamanya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s